BANTENG YANG BODOH
Pada suatu hari di hutan ada seekor banteng yang bernama Bulo. Ia berjalan – jalan di tepi rawa untuk mencari rumput. Kemudian ia bertemu dengan seekor buaya yang sangat cerdik dan lapar. Buaya itu bernama Momon. Dan ia bertanya kepada banteng,
“Hai banteng, mau kemana kamu. Mengapa kamu berkeliaran di daerah kekuasaanku?.” Tanya buaya.
“Eh, buaya. Aku akan mencari rumput yang segar untuk makan siangku di sekitar rawa ini.” Jawab banteng.
Setelah berjam- jam mencari rumput, Akhirnya banteng kelelelahan dan beristirahat di bawah pohon .
Kemudian buaya itu menghampiri banteng dan ia berkata, “ Jika kamu ingin memperoleh rumput yang segar aku tahu tempatnya”. Kata buaya dengan raut muka yang gembira.
“ Di mana tempatnya dan bagaimana cara mendapatkannya?”. Tanya banteng
“ Cara untuk mendapatkanya adalah kamu harus menyeberangi rawa ini “. Kata buaya.
Dan akhirnya dia menuruti perintah buaya, dia lupa bahwa dirinya tidak bisa berenang. Sewaktu ia menceburkan diri ke rawa, baru ia sadar bahwa dirinya tidak bisa berenang. Akhirnya banteng tersebut tenggelam dan menjadi mangsa para buaya.
Pesan : Kita harus mengedepankan akal sehat dari pada hawa nafsu kita
Tampilkan postingan dengan label BAHASA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAHASA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
BANTENG YANG BODOH
Rabu, 27 Februari 2013
Diposting oleh
MUCHLIS ZULFINDARDI
di
03.39
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
BAHASA INDONESIA
Asal Mula Guntur
Rabu, 29 Februari 2012
Dahulu kala peri dan manusia hidup berdampingan dengan rukun. Mekhala, si peri cantik dan pandai, berguru pada Shie, seorang pertapa sakti. Selain Mekhala, Guru Shie juga mempunyai murid laki-laki bernama Ramasaur. Murid laki-laki ini selalu iri pada Mekhala karena kalah pandai. Namun Guru Shie tetap menyayangi kedua muridnya. Dan tidak pernah membedakan mereka.
Suatu hari Guru Shie memanggil mereka dan berkata, “Besok, berikan padaku secawan penuh air embun. Siapa yang lebih cepat mendapatkannya, beruntunglah dia. Embun itu akan kuubah menjadi permata, yang bisa mengabulkan permintaan apapun.” Mekhala dan Ramasaur tertegun. Terbayang oleh Ramasaur ia akan meminta harta dan kemewahan. Sehingga ia bisa menjadi orang terkaya di negerinya. Namun Mekhala malah berpikir keras. Mendapatkan secawan air embun tentu tidak mudah, gumam Mekhala di dalam hati.
Esoknya pagi-pagi sekali kedua murid itu telah berada di hutan. Ramasaur dengan ceroboh mencabuti rumput dan tanaman kecil lainnya. Tetapi hasilnya sangat mengecewakan. Air embun selalu tumpah sebelum dituang ke cawan. Sebaliknya, Mekhala dengan hati-hati menyerap embun dengan sehelai kain lunak. Perlahan diperasnya lalu dimasukan ke cawan. Hasilnya sangat menggembirakan. Tak lama kemudian cawannya telah penuh. Mekhala segera menemui Guru Shie dan memberikan hasil pekerjaannya.
Guru Shie menerimanya dengan gembira. Mekhala memang murid yang cerdik. Seperti janjinya, Guru Shie mengubah embun itu menjadi sebuah permata sebesar ibu jari. ” Jika kau menginginkan sesuatu, angkatlah permata ini sejajar dengan keningmu. Lalu ucapkan keinginanmu,” ujar Guru Shie. Mekhala mengerjakan apa yang diajarkan gurunya, lalu menyebut keinginannya. Dalam sekejap Mekhala telah berada di langit biru. Melayang-layang seperti Rajawali. Indah sekali.
Sementara itu, baru pada senja hari Ramasaur berhasil mendapat secawan embun. Hasilnya pun tidak sejernih yang didapat Mekhala. Tergopoh-gopoh Ramasaur menyerahkannya pada Guru Shie. “Meskipun kalah cepat dari Mekhala, kau akan tetap mendapat hadiah atas jerih payahmu,” kata Guru Shie sambil menyerahkan sebuah kapak sakti. Kapak itu terbuat dari perak. Digunakan untuk membela diri bila dalam bahaya. Bila kapak itu dilemparkan ke sasaran, gunung pun bisa hancur.
Ternyata Ramasaur menyalahgunakan hadiah itu. Ia iri melihat Mekhala yang bisa melayang-layang di angkasa. Ramasaur segera melemparkan kapak itu ke arah Mekhala. Tahu ada bahaya mengancam, Mekhala menangkis kapak itu dengan permatanya. Akibatnya terjadilah benturan dahsyat dan cahaya yang sangat menyilaukan. Benturan itu terus terjadi hingga saat ini, berupa gelegar yang memekakkan telinga. Orang-orang menyebutnya “guntur”.
Tokoh dan karakter : Guru Shie karakter penyayang
Mekhala karakter baik, pandai, dan cerdik
Ramasaur karakter iri (dengki)
Latar atau setting : Latar tempat di hutan
Latar waktu pagi hari
Alur : Alur maju
Sudut pandang : Orang ketiga.
Gaya bahasa : Berlebihan.
Tema : Kesabaran adalah kunci dari keberhasilan.
Amanat : Ilmu bukanlah segala – galanya bagi kita.
Kesabaran itu merupakan kunci dari keberhasilan.
Kejahatan akan kalah dengan kebaikan.
Diposting oleh
MUCHLIS ZULFINDARDI
di
22.01
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
BAHASA INDONESIA
MEMO
Senin, 13 Februari 2012
MENULIS PESAN SINGKAT
Memo atau pesan singkat adalah media komunikasi berupa surat yang berisi pesan, saran, petunjuk, perintah, informasi, laporan, atau penerangan dari seorang atasan kepada bawahan dalam sebuah instansi atau organisasi.
Jenis memo ada dua macam/jenis memo, yaitu memo resmi dan tidak resmi. Memo resmi biasanya dibuat oleh instansi pemerintah atau organisasi. Sedangkan memo tidak resmi dapat dibuat oleh siapa saja. Penulisan pesan singkat harus memperhatikan keefektifan kalimat serta santun berbahasa. Dalam hal ini perlu memperhatikan bahwa penggunaan kalimat efektif, komunikatif, serta kesantunan berbahasa dalam sebuah pesan singkat tujuannya agar inti pesan dapat dipahami penerima tanpa menimbulkan pertanyaan atau kesalahpahaman.
Pesan dapat disampaikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk pesan yang tidak langsung, berarti pesan tersebut disampaikan secara tertulis. Dalam menulis pesan secara tertulis, perhatikan hal-hal berikut:
1. Tulis dengan jelas kepada siapa pesan ditujukan,
2. Tulislah siapa yang membuat pesan
3. Tulis pesan dengan bahasa yang sopan,
4. Tulislah pesan dengan kalimat yang efektif/singkat dan mudah dipahami.
CONTOH: memo resmi
|
Diposting oleh
MUCHLIS ZULFINDARDI
di
04.19
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
BAHASA INDONESIA
Kata-kata mutiara
Senin, 14 November 2011
Tiada hari tanpa belajar membuat kita menjadi pintar. Walaupun rintangan menerjang,janganlah berhenti di tengah jalan. Gapailah terus cita-citamu sampai setinggi langit agar kamu mempunyai masa depan yang indah. Lakukanlah semua itu dengan percaya diri dan anggaplah bahwa kamu bias.
Not a day without learning make us smart. Although barriers crashing, do not stop halfway. Reach your ideal continues until the skies so that you have a wonderful future. Do it all with confidence and assume that you can.
Diposting oleh
MUCHLIS ZULFINDARDI
di
07.01
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
BAHASA INDONESIA
TOKOH IDOLA
Letnan Jenderal TNI Marciano Norman dipercaya sebagai Kepala BIN mengantikan Jenderal Polisi (purn) Sutanto. Berbagai jabatan strategis pernah dijabatnya selama berkarir di militer, diantaranya sebagai Komandan Pasukan Pengaman Presiden, Pangdam Jaya dan terakhir sebagai Komandan Kodiklat Bandung.
· Badan Intelijen Negara (BIN) dihadapkan pada tugas berat untuk menangkal dan menanggulangi maraknya aksi kekerasan, terorisme, bom bunuh diri dan gerakan radikal lainnya. Untuk menghadapi situasi tersebut, BIN sebagai induk intelijen negara harus kuat. Konsolidasi antar lembaga intelijen negara lainnya diperlukan kebersamaannya untuk mencegah pemicu instabilitas keamanan nasional. Seperti membongkar jaringan terorisme yang masih terus-menerus menebar keresahan di tengah masyarakat.
Meski kewenangan BIN akan diperkuat, BIN diharapkan tetap pada jalur professionalitasnya, tidak kembali ke sosok militeristik dalam menjalankan tugasnya, agar masyarakat tidak menjadi resah. UU Intelijen ini sungguh-sungguh dijalankan untuk melindungi masyarakat
Tugas baru tersebut kini berada di pundak Letjen TNI Marciano Norman. Ia dikenal memiliki karakter yang tegas, sehingga dipandang sebagai sosok yang tepat untuk memimpin BIN. Mantan Pandam Jaya ini ditunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Kepala BIN di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, (17/10/2011) untuk mengantikan Jenderal Polisi Sutanto yang telah menjabat sebagai kepala BIN sejak 2009. Pergantian ini diharapkan sebagai babak baru di tubuh BIN dalam membenahi lembaga tersebut di dalam menjalankan tugas-tugasnya.
Sementara itu, dunia intelijen bukan hal yang baru bagi lulusan Akamdemi Militer 1978 ini. Pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan 28 Oktober 1958 ini, sebelumnya juga pernah menempuh pendidikan khusus di bidang intelijen. Selain itu, beberapa jabatan strategis yang pernah dijabatnya mulai dari Komandan Paspampres dan Pangdam Jaya, membuatnya harus besinggungan dengan dunia intelijen. Baik dalam pengamanan khusus terhadap presiden dan juga tamu-tamu kepresidenan dari negara-negara sahabat. Maupun sebagai Pangdam Jaya yang bertugas menjaga keamanan Ibu Kota Jakarta sebagai barometer keamanan nasional.
Sebelumnya Jenderal bintang tiga dari kesatuan kavaleri ini, dalam berkarir di dunia militer tergolong cemerlang. Ia mengawali karirnya sebagai komandan Peleton Yonkav 7 Kodam Jaya, Komandan Kompi Serbu 73 Yonkav 7 Kodam, Kasi Ops Yonkav 7 Kodam Jaya hingga menjadi Komandan Kavaleri Batalyon 7 Kodam Jaya.
Kemudian setelah itu, putra mantan Pangdam Jaya Mayjen TNI (Pur.) Norman Sasono ini, dipercaya sebagai Komandan Kodim 1633/Nainaro, Wakil Assisten Operasi Kaskargatap I/Jakarta, Waasops Kasdam Jaya, Asops Kasgartap I/Jakarta, Asops Kasdam Jaya, Danrem 121/ABW Kodam Tanjungpura dan menjabat sebagai Direktur Analisa Lingkungan Strategis DItjen Strategi Pertahanan Departemen Pertahanan. Setelah itu, menjadi Komandan Pasukan Pengaman Presiden, 2008, Panglima Daerah Militer Jaya, 2010 hingga terakhir sebagai Komandan Kodiklat, Bandung, Jawa Barat, 2011 dengan pangkat Letnan Jenderal.
Sementara itu, BIN yang selama ini yang terkesan hanya bertugas sebagai pemberi informasi akan semakin diperkuat dengan disetujuinya Rancangan Undang-Undang Intelijen oleh DPR pada 11 Oktober 2011. Meski kewenangan BIN diperkuat, BIN diharapkan tetap pada jalur professionalitasnya, tidak kembali ke sosok militeristik dalam menjalankan tugasnya, agar masyarakat tidak menjadi resah. UU Intelijen ini sungguh-sungguh dijalankan untuk melindungi masyarakat. San, red
Diposting oleh
MUCHLIS ZULFINDARDI
di
06.19
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
BAHASA INDONESIA
Langganan:
Postingan (Atom)
